Assalamu’alaikum.wr.wb. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.

Siapakah anak bangsa? Siapakah putra-putri bangsa? Siapakah generasi penerus bangsa?

Rasanya semua pertanyaan itu menyudut ke sebuah jawaban, bahwa kitalah anak bangsa, kitalah putra-putri bangsa, kitalah generasi penerus bangsa. Saya dan kamu sebernarnya tidak sedang mabuk dan tidak sedang sulit berfikir baik, kita masih sadar bahwa kita adalah generasi yang ditunggu-tunggu oleh bangsa untuk bisa menggantikan generasi bobrok saat ini. Toh, negeri mana yang tahan negaranya dilibas habis para koruptor, negeri mana yang tahan negaranya diinjak-injak para pencuri. Toh, tidak ada manusia yang mau negaranya mati konyol begitu saja.

Ditimang Kolam Susu

Bukan lautan, hanya kolam susu. Begitulah anak Indonesia berfikir bahwa negerinya adalah negeri yang kaya raya, negeri penuh keberkahan alam. Aku pun sadar bahwa negeri ini tidak seperti negeri di seberang sana yang tidak punya alam sentuhan tuhan. Kita memiliki semuanya, dari tanah yang subur hingga air yang penuh perbendaharaan. Semua ada di sini.

Memang tak salah jika semua manusia negeri ini membanggakan negeri kayanya. Anak sunda membanggakan tanah Lembang yang subur, Anak Jawa membanggakan pinggiran Bromo yang unik, Anak Sumatera membanggakan kebesaran Toba, Anak Papua pun tak mau kalah, mereka ikut membanggakan tanah jayanya.

Namun, disini saya memandang, bahwa masyarakat kita terlalu santai berfikir postif atas semua yang terjadi. Anak Sunda berfikir bahwa Lembang kan selalu asri selamanya, Anak Papua pun berfikir bahwa tanahnya kan selalu jaya dengan emas di dalamnya. Semua berfikiran sama, karena memang kita ditimang keindahan alam raya ini.

Anak Bangsa, Generasi Penerus

Tidak banyak yang sadar bahwa generasi penerus ada di pangkuan anak bangsa, tepatnya para pemuda bangsa. Bukan tidak sadar bahwa pemuda lah yang akan meneruskan perjuangan pembangunan bangsa. Tapi, kita sebagai pemuda lupa jika kita sudah masuk usia muda. Usia yang sejatinya kuat fisik, kuat mental untuk menggebrak dan merongrong membuat negeri ini kembali menjadi neger yang digjaya.

Seakan-akan para pemuda lupa akan kewajibannya sebagai pelanjut perjuangan para pemimpin bangsa. Kita telena dengan anggapan bahwa kita masih berusia remaja, usia bersenang-senang, usia menghibur diri. Hingga, ada saatnya kita sadar bahwa kita telah masuk usia tua, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa berjalan tertatih-tatih ditemani tongkat kayu usang itu.

Sedang Sekarat

Kita bukan lagi bocah dengan pikiran polos tanpa mimpi besar,

Inilah yang membuat saya berkata bahwa anak bangsa sedang sekarat dan hendak menemui ajal jika tidak segera bangun kembali. Putra-putri bangsa tengah terseok-seok mengitari zaman gila yang memaksa para pemuda masuk ke jurang hiburan maya. Terasa senang menjalani hidup, namun sebenarnya jiwa tengah ditempa untuk menjadi jiwa para budak hina.

Dahulu, Soekarno bisa berkoar-koar hebat di tengah manusia se-jagat, dan semua menghargainya. Sekarang, tanpa sadar mimpi kita semua mulai hancur dimangsa putranya sendiri. Bangsa Indonesia mulai menempati posisi stategis di perjalanan peradaban dunia. Mulai dari daya baca yang semakin rendah, kekuatan pejalan kaki yang semakin lemah saja, hingga kekuatan mantra para koruptor yang semakin menggila, membuat negeri masuk ke masa menjelang ajal.

Masih Bisa Hidup

Meski begitu, percayalah bahwa jiwamu hanyalah sekarat saja, belum mati dan hancur. Kita masih bisa bangun semuanya kembali, membangun mimpi-mimpi para pendiri negeri, membangun negeri makmur, aman, sentosa, dan diridhoi oleh Tuhan. Percayalah.

Segala puji bagi Allah. Assalamu’alaikum.wr.wb.


Author: Muhammad Fadillah Arsa

Panggil saja saya dengan sebutan "Kang Arsa". Seorang mahasiswa yang senang menulis. Karena dengan menulis, setiap ide akan mengalir menumbuhkan benih-benih pejuang baru...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *