Banjir Bandung Selatan telah menjadi masalah klasik yang sampai saat ini masih belum bisa teratasi. Alokasi anggaran dana pemerintah yang terbilang sangat besar untuk mengatasi permasalahan ini masih belum berhasil memecahkan telur dari cangkangnya. Seolah-olah pemerintah dan masyarakat kebingungan mencari solusi untuk menjadikan banjir Bandung Selatan tinggal kenangan. Semakin berjalannya waktu serta semakin dewasanya pemerintah dan masyarakat dalam mengurusi masalah banjir ini, bukannya memberikan secerca harapan bagi wilayah terdampak, justu masalah banjir ini semakin menggertak negeri dan semakin gagah saja menampakkan kebringasannya. Hal itu bukan hanya sebatas pendapat yang sepertinya tidak jauh dari kebenaran, tetapi sudah menjadi fakta bahwa di tahun ini banjir Bandung Selatan telah bertambah ganas dengan meluasnya wilayah terdampak, semakin besarnya volume banjir, hingga mulai bermunculannya korban jiwa sebagai tanda bahwa masalah banjir ini sudah bukan lagi menjadi masalah yang bisa diabaikan.

Bila melihat kondisi tofografi, wilayah bandung berada di kawasan pegunungan, dimana terletak sekitar 700 m hingga 2.084 m di atas permukaan laut. Terkadang saya menyebut bencana ini hanya lelucon belaka, karena bagaimana bisa wilayah yang sesungguhnya menjadi kisaran bagian hulu Sungai Citarum ini terkena permasalahan banjir, sedang wilayah-wilayah lain yang sebenarnya lebih dekat dengan hilir tidak sekalipun terkena bencana banjir sebesar ini. Namun, kembali lagi kedalam fakta yang terjadi. Saya katakan bahwa banjir di Bandung Selatan bukan hanya sekadar bencana alam belaka, karena sesungguhnya banjir ini terjadi karena beberapa faktor yang sedianya bukan berasal dari sungai citarum sendiri.

Banjir Bandung Selatan sendiri diakibatkan oleh luapan Sungai Citarum akibat dari intensitas hujan di hulu sungai yang cukup tinggi, serta diakibatkan oleh kerusakan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Citarum. Seperti halnya ungkapan Ir. Prasetyo Nuchsin, MM, Direktur Perluasan dan Pengelolaan Lahan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian pada tahun 2015 menyikapi semakin menurunnya kondisi lingkungan Sungai Citarum, “Banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau adalah indikator yang  menunjukkan fakta bahwa telah terjadi kerusakan Daerah Aliran Sungai. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kritis, terutama di bagian hulu, telah menurunkan kemampuan daya dukung pasokan air”.

“Mengapa hanya Bandung Selatan yang terkena banjir?”. Letak Bandung Selatan yang ada di cekungan bandunglah yang menyebabkan terjadinya banjir, ketika curah hujan tinggi dengan ditambah beberapa faktor lain yang membuat melimpahnya air di hulu sungai secara langsung masuk ke dalam Sungai Citarum, maka hal itu membuat Sungai Citarum penuh terisi oleh limpahan air, maka otomatis wilayah Bandung Selatan akan dilanda banjir karena air sungai-sungai kecil di sekitaran Citarum tidak bisa masuk ke dalam Sungai Citarum.

Tahun 2016 ini bisa dikatakan sebagai puncaknya banjir Bandung Selatan melanda sejumlah daerah di Bandung Selatan, utamanya di Kabupaten Bandung. Sejumlah daerah di Kabupaten Bandung seperti Kecamatan Cicalengka, Rancaekek, Cileunyi, Solokan Jeruk, Majalaya, Ciparay, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Pemeungpeuk, Banjaran, Arjasri, Cangkuang, Katapang, dan Kutawaringin di tahun ini kembali merasakan dingin dan kotornya air banjir. Jumlah yang sangat besar bila melihat bahwa bencana banjir ini hanya disebabkan oleh air bah. Dari banyaknya daerah terdampak terbanyak, daerah Baleendah, Bojongsoang, Majalaya, dan Ciparay-lah yang menjadi kawasan dengan dampak banjir terbesar dikarenakan dilintasi langsung oleh Sungai Citarum.

Berdasarkan data prakiraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung, banjir di tahun 2016 ini merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir. Bagaimana tidak, tercatat sedikitnya 2 orang korban meninggal, 3 orang hilang, sebanyak 5.900 KK (24.000 jiwa) terdampak banjir, dan 15.000 orang mengungsi yang tersebar di 36 titik di Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang.

Namun sekali lagi, besarnya bencana banjir di tahun 2016 ini sangat tidak sebanding dengan alokasi anggaran pemerintah untuk mengatasi permasalahan tahunan ini. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat, pada 2014, anggaran normalisasi dan penanganan banjir Citarum mencapai Rp 740 miliar. Fokusnya, meningkatkan kapasitas penampungan debit Citarum. Jika melihat jumlah anggaran di atas, pastinya kita bertanya-tanya, “Ada apa dibalik banjir akibat Sungai Citarum ini?”.

Bagi warga Kabupaten Bandung, saya rasa sudah bukan hal yang aneh lagi ketika mendengar telah terjadi banjir di daerahnya, apalagi tentang kabar daerah Kecamatan Baleendah. Daerah Kecamatan Baleendah bisa kita anggap sebagai daerah yang memiliki dampak terparah banjir Bandung Selatan akibat luapan air Sungai Citarum. Melihat hanya daerah ini yang memiliki pokok-pokok persoalan banjir yang cukup tinggi. Disamping persoalan menurunnya kawasan resapan air akibat arus modernisasi Kabupaten Bandung, persoalan kontur tanah dan lokasi daerah mereka pun sangat mempengeruhi terjadinya banjir di wilayah tersebut. Daerah Kecamatan Baleendah adalah salah satu daerah yang lokasinya berada di bawah permukaan air sungai.

Jelas sekali bisa kita prediksi, ketika air yang masuk Sungai Citarum melebihi kapasitas, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa air akan meluap dan merendam daerah ini. Dan naasnya lagi, meski daerah Baleendah dan wilayah lain yang dekat dengannya tidak dikenai hujan, daerah ini tetap saja bisa merasakan banjir akibat air bah dari hulu Sungai Citarum.

Apabila kita semua melihat perkembangan zaman yang begitu pesatnya di abad ini, sesungguhnya ungkapan naas saya sudah bukan lagi menjadi kata yang patut untuk kita pergunakan. Ada banyak cara yang sebenarnya bisa kita dan pemerintah lakukan untuk mengatasi masalah banjir ini. Dari mulai yang sifatnya mudah dilakukan hingga proyek yang terbilang besar dan memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Berdasarkan fakta yang telah terjadi di masyarakat dan media berita masyarakat, baik Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, hingga Pemerintah Nasional Indonesia, mereka telah mencanangkan banyak proyek besar untuk mengatasi masalah tahunan ini. Mulai dari pengerukan sungai, perbaikan Daerah Aliran Sungai, perbaikan Daerah Resapan Air, sosialisasi terhadap masyarakat, hingga yang paling anyar bahwa pemerintah berencana membangun waduk resistensi yang dicanangkan akan membuat masalah ini menghilang dari kehidupan kita. Kita semua setuju bahwa semua proyek itu adalah fakta dan rencana yang sudah mulai berjalan. Namun sekali lagi, saya katakan bahwa fakta juga membuktikan bahwa dari semua proyek besar itu, jelas bahwa Bandung Selatan masih saja terendam banjir di setiap musim hujan. Dan bukannya mengalami penurunan, dampak banjir pun terlihat semakin besar.

Bukan bermaksud menyalahkan pemerintah dan menyalahkan pula efektifitas proyeknya. Disini saya hanya ingin mengatakan bahwa masalah banjir Bandung Selatan ini harus segera dihapuskan oleh gerak bersama secara gotong royong alias sabilulungan. Perlu sinergi yang baik antara masyarakat dengan pemerintah agar didapatkan sebuah solusi pengatasan yang sangat efektif.

Bayangkan saja, ketika pemerintah menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk proyek pengerukan Sungai Citarum berupa pengerukan pendalaman dan pelebaran sungai, sementara di sisi lain masyarakat masih saja membuang sampah sembarangan dan membeton daerah resapan air. Semua bisa berpendapat dan juga sependapat bahwa kerja ini tidak membuahkan apa-apa. Setuju?

Sebenarnya ada sebuah solusi yang sebenarnya sangat mudah dilakukan dan cukup efektif bila kita kerjakan bersama. Melihat dari semua masalah yang membuat adanya banjir di Bandung Selatan ini, kita bisa mengambil pokok/intisari masalahnya. Dari sejumlah masalah turunan seperti masyarakat yang membuang sampah sembarangan, kerusakan DAS, pendangkalan sungai, adanya korupsi, atau masalah lainnya yang pada intinya bukan merupakan masalah yang utama, kita bisa ambil intisari bahwa masalah utama dari banjir Bandung Selatan adalah masalah air yang dengan mudahnya terbuang langsung ke Sungai Citarum alias masalah resapan air/sistem drainase. Setuju?

Pokok masalah tersebut saya sarikan dari ungkapan Ir. Prasetyo Nuchsin, MM, Direktur Perluasan dan Pengelolaan Lahan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian pada tahun 2015 menyikapi semakin menurunnya kondisi lingkungan Sungai Citarum, “Banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau adalah indikator yang  menunjukkan fakta bahwa telah terjadi kerusakan Daerah Aliran Sungai. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kritis, terutama di bagian hulu, telah menurunkan kemampuan daya dukung pasokan air”, serta fakta di lapangan yang juga menunjukan bahwa Sungai Citarum meluap saat musim hujan dan mengalami kekeringan saat musim kemarau. Dan dari masalah pokok itulah kita bisa cari akibat lain selain banjir di Bandung Selatan yaitu masyarakat yang selalu cukup akan kebutuhan air tanah saat musim hujan, namun mereka sangat sangat kekurangan air saat musim kemarau.

Cukup sederhana sekali ketika melihat argumen saya ini. Meski begitu, masalah sederhana ini tidak cukup bila ditanggapi dengan tertawaan, ejekan dan olok-olok semata, saya rasa perlu diadakan sebuah perenungan terhadap seluruh masyarakat Indonesia. Bahwa semua masalah bajir yang serupa banjir di Bandung Selatan terjadi karena masyarakat yang berfikir terlalu jauh dari pokok masalah banjir sebenarnya.

Sebelum saya lanjutkan kedalam pembahasan tentang solusi yang akan saya berikan, saya harap semua terlebih dahulu setuju dengan argumen saya mengenai masalah pokok banjir Bandung Selatan di atas. Biar bagaimanapun harus ada kesepakatan awal untuk mengambil jalan tengah dari sebuah masalah besar.

Pembangunan sungai baru sebagai sodetan arus Sungai Citarum tidak mungkin untuk dilakukan. Pelebaran Sungai Citarum tidak mungkin untuk dilakukan dikarenakan lahan pinggiran sungai yang sudah dipergunakan sebagai padat pemukiman. Pengerukan Sungai Citarum sudah menjadi hal yang tidak efektif mengingat budaya membuang sampah di tempat yang benar sulit dihilangkan dan ketidakmampuan pemerintah menyediakan tempat sampah yang memadai dan gratis. Perbaikan Daerah Aliran Sungai sama pula tidak efektifnya mengingat budaya masyarakat yang sama pula sulit diluruskan. Sosialisasi pembuangan sampah pada tempatnya sudah menjadi solusi kuno dan sudah saya anggap menjadi solusi bodoh mengingat pemerintah hanya sekadar mengajak, menghimbau dan memaksa sedang masyarakat sendiri tidak tahu harus kemana mereka membuang sampah secara mudah, gratis, dan terfasilitasi. Pembangunan waduk resistensi terbilang berjalan lamban dan lama, mengingat masih ada saja masyarakat yang sulit diatur dan pengerjaan pembangunan yang terbilang lama.

Meski sudah ada solusi besar atas masalah banjir ini berupa pembangunan waduk resistensi yang sudah menjadi secerca harapan bagi masyarakat terdampak. Namun sebenarnya solusi masalah ini telah keluar dari kesepakatan akan argumen saya. Solusi besar ini saya rasa akan membuat masalah ini dikatakan selesai. Tapi apakah mereka lupa bahwa masalah banjir di Bandung Selatan ini bukan hanya sekadar masalah masuknya air ke pemukiman masyarakat?

Solusi saya ini sudah bukan lagi merupakan penemuan terbaru. Pembangunan media resapan air berupa sumur resapan menjadi solusi saya yang saya rasa akan membuat daerah Bandung Selatan terutama bagi daerah Baleendah bisa teratasi. Konsep dasara sumur resapan ini pada hakekatnya merupakan suatu sistem drainase dimana air hujan maupun air yang mengalir ditampung dalam suatu sistem resapan air. Solusi ini sangat berbeda dengan sistem konvesional yang menjadikan sungai sebagai jaur akhir untuk menyalurkan air hingga ke laut. Sumur resapan ini merupaka  sebuah sumur dengan kapasitas daya tampung air yang sangat besar denga/tidak dengan bahan-bahan penyaring.

Dengan adanya pembangunan media resapan air yang dilakukan secara serentak dan menyeluruh, saya yakin bahwa solusi ini akan berjalan dengan lancar. Sebuah solusi yang cukup mudah dilakukan dikarenakan anggaran yang harus dikeluarkan tidak begitu tinggi. Apalagi jika pembangunan sumur resapan ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat ataupun Pemerintah Nasional Indonesia dengan anggarannya yang menjulang dan para insinyur pembangunannya yang pintar-pintar.

Pembangunan media resapan terutama sumur resapan sangat tepat untuk dilakukan apabila melihat kondisi resapan air yang terus menghilang. Data mengatakan bahwa sudah banyak alih fungsi lahan di daerah Bandung Utara, dari yang mulanya berupa daerah resapan air, kini menjadi kawasan perhotelan dan pemukiman. Pertanyaan penting yang harus kita tekankan, “Apa yang telah kita lakukan untuk mengganti dampak dari alih fungsi lahan tersebut?”. Fakta pun memperlihatkan kepada kita bahwa terdapat ketimpangan antara alih fungsi lahan dengan pembangunan media resapan air untuk menanggulangi dampaknya.

Untuk pengatasan persoalan banjir di Beleendah sendiri, dengan adanya pembangunan sumur resapan yang efektif, akan membuat persoalan luapan Sungai Citarum dapat teratasi. Pembangunan sumur resapan ini akan menjadikan air tidak akan langsung masuk ke dalam Sungai Citarum, namun setidaknya akan diresap seluruh maupun sebagian debitnya ke dalam tanah. Efektif disini merupakan sebuah kata yang saya ungkapkan agar pembangunan sumur resapan ini tidak hanya sekadar asal pembangunan semata. Perlu adanya pembangunan yang terencana dan terkonsep sehingga solusi ini benar-benar akan menunjukan efektifitasnya.

Berbicara pembangunan sumur resapan yang efektif, memang sangat sulit apabila kita memandang pembangunan ini adalah solusi yang buruk yang tidak cocok untuk dikembangkan. Ketika pandangan masyarakat dan pemerintah sudah tidak baik akan solusi ini, semua tidak akan berjalan dengan lancar. Mulai dari penempatan sumur resapan yang akan tidak teratur, pembangunan sumur resapan yang asal-asalan, hingga jumlah sumur resapan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

Penempatan sumur resapan terbilang sangat mudah untuk diatur. Penempatan sumur resapan sendiri tidak mesti langsung diterapkan di lokasi terdampak, misal daerah Kecamatan Baleendah. Penempatan sumur resapan pada lokasi yang salah justru akan memperburuk keadaan. Sumur resapan sangat efektif dibangun pada daerah yang memiliki posisi air tanah sedikit jauh dari permukaan tanah. Apalagi mengingat pembangunan sumur resapan ini ditujukan untuk menyerap sebesar-besarnya air sebelum masuk ke Sungai Citarum agar tidak terjadi kembali luapan yang mengakibatkan banjir.

Penempatan sumur resapan untuk mengurangi debit air Sungai Citarum di musim hujan yang tepat adalah pada daerah hulu sungai sebelum daerah terdampak. Ada banyak lokasi yang bisa ditempatkan sumur resapan, mulai dari daerah perkebunan, pertanian, hingan pemukiman masyarakat, terutama di daerah rawan air bersih. Di daerah pemukiman masyarakat sendiri, sumur resapan bisa dibuat di tiap wilayah pemukiman (tepatnya RW), tepat pada daerah aliran air sebelum masuk menuju sungai kecil. Bayangkan saja jika puluhan ribu sumur resapan ini telah terbangun di seluruh wilayah dekat hulu Sungai Citarum dan wilayah rawan air bersih di musim kemarau, solusi sumur resapan sebagai cara untuk mengatasi masalah banjir ini dapat terlaksana.

Disamping itu, pembangunan sumur resapan ini juga harus diperhatikan, tidak semua sumur resapan dibangun dengan bentuk dan ukuran yang sama. Pembangunan sumur resapan harus memerhatikan lokasi pembangunan. Dimulai dari kontur tanah, lokasi air tanah, hingga tingkat pencemaran air daerah tersebut. Daerah dengan tingkat pencemaran air yang tinggi haruslah lebih diperhatikan, komposisi pengisi sumur resapan harus lebih disesuaikan dikarenakan kesalahan pembangunan akan membuat air tanah daerah tersebut akan tercemar.

Solusi sumur resapan sebagai solusi masalah banjir bukan merupakan solusi terbaru. Sudah banyak provinsi lain yang telah menargetkan pembangunan sumur resapan secara besar-besaran. Perhatikan saja Provinsi DKI Jakarta, mereka telah menargetkan 34.218 sumur resapan di akhir tahun 2017 (sumber: beritasatu.com). Memang pembanguan di Provinsi DKI Jakarta tidak begitu efektif dikarenakan kondisi tofografi wilayah yang kurang sesuai. Dan kondisi itu sangat jauh berbeda dengan kondisi tofografi wilayah-wilayah Bandung. Bandung memiliki kondisi tofografi yang sangat mendukung pembangunan sumur resapan ini, sehingga tidak ada alasan selain masalah anggaran dan kebijakan pemerintah yang bisa menolak solusi ini.

Namun, dari segenap pemaparan saya mengenai solusi penanganan banjir dengan media sumur resapan ini. Perlu diadakan pengembangan oleh insinyur lingkungan dan pihak kompeten lainnya dalam pemilihan lokasi pembangunan, bentuk pembangunan, serta desain sumur resapannya sendiri. Agar diperoleh hasil yang maksimal atas solusi penanganan ini.

Masalah banjir di Bandung Selatan terutama di daerah Baleendah pada hakikatnya bukanlah merupakan masalah banjir yang kompleks, namun dikarenakan tidak adanya penanganan yang efektif dan sesuai, masalah ini menjadi sebuah masalah yang mengakibatkan masalah besar. Dengan pokok persoalan masalah resapan air (sistem drainase), maka diperlukan pula sebuah solusi yang menangai masalah pokok tersebut. Sedangkan saat ini, pemerintah justru banyak melakukan penanganan yang sifatnya menangani masalah turunan persoalan banjir ini. Disamping itu, solusi penanganan banjir dengan menggunakan media sumur resapan yang pada dasarnya dapat menanggulangi persoalan banjir akibat masalah resapan air justri kian terabaikan. Maka diperlukan sistem gotong royong dan sabilulungan dari masyarakat yang bisa mengangkat sebuah solusi sederhana ini untuk menjadi solusi yang bisa menghapuskan kata banjir tahunan dari wilayah Bandung Selatan.

Catatan

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Essay Solusi Banjir untuk Kabupaten Bandung oleh Tenda Visi Indonesia.

Gambar fitur diambil dari fokusjabar.com


Penulis: Muhammad Fadillah Arsa

Panggil saja saya dengan sebutan "Kang Arsa". Seorang mahasiswa yang senang menulis. Karena dengan menulis, setiap ide akan mengalir menumbuhkan benih-benih pejuang baru...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *