Pentingnya Peran Serta Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan untuk Mewujudkan Anak Indonesia Berprestasi

0Shares

Setiap keluarga perlu memahami pentingnya pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan anak. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh keluarga sejak pagi bangun tidur hingga malam memulai tidur dan dari anak semasa balita hingga anak menjadi pemuda-pemudi dewasa yang berhasil menggapai cita-citanya.

Saya yang saat ini sedang mengeyam pendidikan di bangku kuliah semester tiga tentu telah merasakan hidup dididik oleh sebuah keluarga. Beruntung memang, saya terlahir dalam sebuah keluarga yang cukup memahami pentingnya pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan anak. Sehingga saya dapat terdidik menjadi seorang pemuda yang berkembang dan giat berkarya seperti saat ini. Dan tentunya, tulisan ini akan menjadi media bagi saya untuk berbagi beberapa pengalaman saya dalam mengalami pendidikan hebat dalam sebuah keluarga 🙂 .

Mungkin ada beberapa di antara Sahabat yang bertanya-tanya, ‘apa sih pentingnya peran serta keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan dan bagaimana cara melakukannya?‘ Yap, pertanyaan itu sejatinya adalah pokok permasalahan yang saat ini hadir dalam beberapa keluarga dan tentunya menjadi pokok pembahasan tulisan ini.

Tujuan Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan

Perlu Sahabat ketahui, pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan berkaitan dengan banyak hal, baik yang cakupannya kecil semisal hal kecerdasan anak dan hal proteksi anak dari dampak buruk era globalisasi hingga yang cakupannya luas semisal hal kemajuan bangsa. Semua itu diakibatkan lantaran pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun generasi.

Maka tak salah, pendidikan menjadi salah satu poin penting dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Inggris: Sustainable Development Goals –  SDGs) yang berbunyi ‘Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua’. Oh ya, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ini merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

Adapun saya sendiri memandang bahwa sebetulnya tujuan terdekat dari adanya pelibatan keluarga ini adalah untuk mencetak dan mewujudkan anak Indonesia berprestasi sesuai dengan bakat kemampuan dan minatnya masing-masing dengan disertai karakter yang baik. Dengan adanya anak yang berprestasi itulah, maka secara tidak langsung harapan keluarga untuk mencetak buah hatinya menjadi generasi yang unggul telah terwujud. Dan jika hal ini dilakukan oleh seluruh keluarga di Indonesia, maka akan berdampak positif pula pada kemajuan bangsa Indonesia.

Cara Melibatkan Diri dalam Penyelenggaraan Pendidikan

Pihak-pihak yang terkait dan terlibat secara langsung maupun tidak langsung terhadap anak – sebagai contoh: ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, atau kakak – mesti mendapatkan edukasi tentang cara melibatkan diri dalam penyelenggaraan pendidikan anak. Tidaklah mudah untuk mendapatkan edukasi ini. Apalagi keadaan setiap keluarga tidaklah sama akibat adanya perbedaan kultur pada masing-masing keluarga ditambah dengan keadaan zaman di era kekinian ini yang telah berbaur dengan kemajuan dan keterbukaan informasi dan komunikasi yang tidak dapat ditolak atau ditunda. Oleh karenanya, setiap keluarga harus mampu mencari referensi yang pas yang dapat diterapkan pada masing-masing keluarga dan sesuai dengan keadaan zaman.

Nah, kabar bahagianya, pada tulisan ini – tepatnya pembahasan selanjutnya – saya akan sedikit berbagi mengenai cara pelibatan keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak. Tulisan ini saya susun berdasarkan beberapa pengalaman baik saya selama dididik oleh keluarga dengan baik. Meski pada kenyataannya, tidak semua yang dilakukan oleh keluarga terhadap saya bersifat baik seluruhnya. Namun, saya punya harapan, semoga beberapa pengalaman baik ini dapat menjadi referensi baik untuk Sahabat Keluarga semua 🙂 .

Keluarga mesti terlibat dalam pendidikan anak sedari dini. Urgensinya adalah untuk memacu dan mengembangkan kecerdasan anak dengan baik. Kecerdasan anak dapat berkembang dan terpacu dengan baik apabila dibelakangnya terdapat keluarga yang selalu membimbingnya dengan berbagai hal yang baik bagi anak. Apalagi, masa anak ketika masih dini semisal pada usia balita merupakan usia emas bagi anak.

Maksudnya?

Maksudnya, pada usia tersebut anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat yang akan menopang usia-usia selanjutnya. Sebagaimana dilansir oleh situs paud.id dengan judul tulisan ‘Pengertian Masa Usia Emas Anak Usia Dini (Golden Age)’, mereka menerangkan bahwa:

Lima tahun pertama kehidupan anak merupakan masa pesat perkembangan otak hingga masa ini sering disebut sebagai golden periode. Bahkan, anak di usia 5 tahun pertama diketahui punya kemampuan photographic memory, mengingat seperti mata kamera. Di atas lima tahun, kemampuan memorinya menurun.

Berdasarkan pengalaman yang telah saya alami, keluarga bisa melakukan beberapa hal berikut untuk memacu dan mengembangkan kecerdasan anak.

Memberikan Alat Permainan Anak yang Pas

Yang pasti, kita semua mengatahui bahwa alat permainan bisa membantu memacu kecerdasan anak. Namun, keluarga dalam hal ini orang tua wajib bersikap selektif dalam memberikan alat-alat permainan untuk anak. Selain selektif memilih alat permainan dengan bahan yang mana bagi anak, orang tua juga perlu melihat dan memprediksi dampak yang akan ditimbulkan dari alat permainan tersebut.

Sangat baik bagi orang tua untuk memberikan alat permaianan yang mendukung gerak motorik anak. Sebagai contoh, saya sering diberi alat permainan gasing, mobil-mobilan, puzzle, dan alat-alat permainan tradisional yang mendukung saya untuk bermain sambil bergerak. Atau untuk anak perempuan, adik saya sendiri sering diberi alat permainan peralatan memasak yang mendukungnya untuk selalu berinteraksi dengan kawan-kawannya bermain bersama.

Selalu Meluangkan Waktu Bersama Anak

Percayalah, waktu luang keluarga sangatlah dibutuhkan oleh seorang anak. Gambar di atas bisa menjadi sindiran sekaligus pengingat bahwa setiap anggota keluarga terutama orang tua seharusnya bisa menyempatkan waktu untuk bermain bersama untuk membuat hati anak selalu bahagia.

Ketika saya kecil dahulu, ibu dan bapak saya selalu menyempatkan berinteraksi dengan saya untuk bersantai dan bermain. Sebagai contoh, pada malam hari saya selalu mendapat dongeng-dongeng seru dari bapak saya dan pada hari minggu saya bersama keluarga selalu jalan-jalan ke luar rumah bersama untuk sekedar berolah raga, berwisata, membeli jajanan pasar, atau sekadar bersilaturahmi mengunjungi rumah sanak saudara.

Mungkin hal itu terlihat sepele, namun sangat berguna bagi anak karena dapat membantu anak selalu bahagia dan jauh dari stress. Anak yang selalu merasakan bahagia dan tidak mengalami stress tentu akan mampu berkembang lebih baik ketimbang anak dengan kondisi sebaliknya.

Mengajari Anak Hal-hal Baru

Pada masa belajar, anak mesti mendapat hal-hal baru dari keluarganya. Dalam hal ini sangat baik bagi anak jika keluarga selalu memperhatikan proses perkembangan kemampuan anaknya. Tanpa adanya pelajaran dari keluarga, mungkin saja si anak tidak bisa melakukan suatu hal sepele.

Persis seperti yang saya alami saat saya masih bersekolah di Taman Kanak-kanak. Entah apa jadinya jika orang tua saya saat itu tidak memperhatikan proses perkembangan saya. Ketahuilah, saat itu saya ternyata tidak bisa melompat. Pantas saja, saya pernah terjatuh ketika melompati selokan dan mendapat tertawaan dari ibu kawan-kawan saya saat berlatih senam di Taman Kanak-kanak. Parahnya, saya tidak menyadari itu.

Hmm, ya iyalah! Wong masing anak kecil, hehe.

Untungnya, setelah orang tua saya mengetahui kelemahan saya itu, saya mendapat bimbingan khusus untuk bisa melompat. Yeay akhirnya saya bisa melompat!

Banyak yang mengatakan bahwa pendidikan di mulai dari keluarga di rumah. Perkataan itu bagi saya erat kaitannya dengan aspek pembangunan karakter anak yang harus mulai dibangun dari rumah oleh keluarga. Biar bagaimanapun, keluarga adalah pihak terdekat bagi anak dibanding pihak lainnya.

Tidak mudah bagi keluarga untuk membangun karakter anak hingga sempurna. Tapi, itu bukan alasan bagi keluarga untuk angkat tangan tidak berusaha melakukannya. Bener ga?

Nah berikut ini saya tulis beberapa karakter anak yang penting untuk keluarga bangun untuk mewujudkan anak berprestasi dan sukses di masa mendatang.

Karakter Bertanggung Jawab

Karakter bertanggung jawab adalah karakter melakukan semua tugas dan kewajiban dengan sungguh-sungguh. Keluarga berkewajiban memberi pemahaman kepada anak bahwa dirinya memiliki tanggung jawab kepada tuhan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Karakter Hidup Sederhana

Karakter hidup senderhana adalah karakter untuk membentengi diri dari sikap dan kecenderungan berperilaku boros dan mengutamakan kesenangan hidup semata. Contoh termudah yang sering saya lakukan adalah membiasakan diri berperilaku  hemat dengan cara menabung.

Karakter Bersahabat

Karakter bersahabat meliputi sikap yang akrab, menyenangkan, dan santun dalam berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain. Ada beberapa cara untuk menumbuhkan karakter ini pada anak, diantaranya memberikan teladan, memberikan dongeng teladan, ataupun melalui proses pembiasaan.

Karakter Percaya Diri

Karakter percaya diri adalah yakin bahwa dirinya dapat atau mampu melakukan sesuatu. Manfat dari adanya karakter ini pada anak adalah:

  • Anak dapat bersosialisasi atau menjalin pertemanan.
  • Dapat melihat diri secara positif.
  • Siap menghadapi tantangan.

Karakter Mandiri

Karakter mandiri adalah kemampuan anak untuk bisa melakukan berbagai kegiatan, mengatur dan memilih serta memutuskan dengan percaya diri dan bertanggung jawab. Karakter mandiri ini sudah semestinya dibiasakan terhadap anak sejak dini hingga dewasa dikarenakan manfaatnya yang begitu besar. Berikut beberapa diantaranya:

  • Menumbuhkan rasa percaya diri.
  • Menumbuhkan rasa tanggung jawab.
  • Mengembangkan daya tahan fisik dan mental.
  • Menumbuhkan kreativitas.
  • Tanggap dalam berpikir dan bertindak.

Karakter Disiplin

Bagi keluarga, untuk dapat membiasakan anak memiliki karakter disiplin, keluarga sebelumnya harus mengenali kekhasan anak dan memahami kebutuhan anak. Dan dalam penerapannya, keluarga harus menjauhi sikap keras, memarahi, menyindir, atau memberi hukuman berlebih kepada anak karena dapat mengganggu tumbuhnya karakter ini.

Tidak bisa dipungkiri lagi, saat ini kita sedang berada dalam era kekinian.

Apa itu era kekinian?

Yap, era kekinian adalah sebutan yang kerap kali masyarakat saat ini lontarkan untuk menyebut keadaan zaman yang kini telah masuk ke era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Apalagi sekarang kita sedang menatap masa depan yang lebih maju dari pada sekarang dengan adanya Revolusi Industri 4.0. Maka, sudah saatnya pula, keluarga mesti mengeluarkan waktu dan keringat lebih untuk membimbing anak dalam menggunakan teknologi yang ada.

Pentingkah?

Hmm, salah-salah, keluarga bisa kecolongan dengan mendapati anak yang memiliki karakter negatif atau menurunnya tingkat kebugaran anak akibat terpapar dampak negatif dari kemajuan teknologi ini. Di era kekinian, teknologi telah menjadi semacam bom waktu yang bisa membunuh jati diri anak kalau-kalau keluarga tidak dapat menjinakannya. Sedih ya 🙁 ?

Memberikan Teknologi Sesuai dengan Usia

Salah satu cara yang dapat keluarga lakukan sebelum melakukan bimbingan terhadap anak adalah dimulai dari pemahaman Sahabat Keluarga sendiri. Keluarga mesti memahami teknologi yang mana yang boleh diberikan kepada anak sesuai dengan golongan usianya.

Ketahuilah, saya sendiri baru mendapatkan ponsel pintar ketika berada di kelas 12 SMA. Disamping karena memang saat itu ponsel pintar baru mulai beredar luas, namun perlakukan semacam ini juga harus disesuaikan oleh keluarga. Perlu diketahui bahwa smartphone tidak diperuntukkan untuk anak dibawah usia. Tapi sayang, belum banyak keluarga yang sadar dan memahami hal ini. Beberapa keluarga justru bangga ketika si kecil bisa menggunakan ponsel pintar di usia yang masih belia. Padahal, akibat negatif yang ditimbulkan sangatlah fatal.

Oke deh, saat ini kita tidak bisa lepas dari penggunaan teknologi, terutama teknologi digital. Tapi ingat juga, bahwa anak memiliki hak untuk mendapat perlindungan dari semua hal negatif oleh keluarga selama ia masih belum paham antara yang benar dan yang salah. Setuju?

Mengajari, Mengawasi, dan Membatasi Penggunaan Teknologi Digital

Setelah usia anak telah memasuki usia cukup untuk menggunakan teknologi, maka keluarga terutama orang tua perlu memberikan anak teknologi tersebut untuk ia pergunakan. Toh teknologi digital memiliki segudang manfaat yang baik untuk anak.

Tapi! Ada tapi nya nih… hehe. Keluarga juga mesti mengajari, mengawasi, dan membatasi dengan baik penggunaan teknologi yang benar.

  • Mengajari = Artinya keluarga sebaiknya mengajari penggunaan teknologi tersebut dengan baik.
  • Mengawasi = Artinya keluarga perlu mengawasi setiap penggunaan teknologi yang anak lakukan.
  • Membatasi = Ada kalanya keluarga perlu membatasi jam penggunaan teknologi sesuai dengan kadarnya agar tidak berefek negatif pada kesehatan jasmani dan rohani anak.

Bersyukur sekali, ketiga hal itu telah orang tua saya lakukan selama saya menggunakan perangkat digital laptop di masa lalu. Pada awalnya, orang tua saya mengajari cara menggunakan laptop. Setelah saya bisa menggunakannya, orang tua selalu mengawasi saya ketika menggunakan laptop. Mereka meniadakan akses internet untuk memudahkan pengawasan. Dan yang terakhir, orang tua saya selalu membatasi lama penggunaan laptop maksimum 2 jam. Saya pikir, cara semacam ini bagus juga diterapkan oleh Sahabat Keluarga semua 🙂 .

Menjauhkan Anak dari Dampak Negatif Teknologi

Tujuannya dari adanya bimbingan keluarga ini pastinya untuk menjauhkan anak dari dampak negatif teknologi.

Sudah tau kan bagaimana buruknya dampak negatif dari teknologi?

Iyap! Pornografi, kecanduan game, dan mata minus adalah beberapa diantaranya.

Setelah anak masuk ke dalam dunia pendidikan formal, maka saya rasa tanggung jawab peran serta keluarga terhadap anak semakin kompleks saja. Keluarga harus lebih sigap dalam mendukung anak karena berkaitan dengan kesuksesannya di sekolah. Apalagi pada faktanya, saat ini kesuksesan anak dalam pendidikan formal dianggap menjadi penentu kesuksesan anak di masa mendatang.

Membimbing Anak Mengerjakan Tugas

Yang paling saya suka dari keluarga saya adalah saya selalu mendapat bimbingan dalam mengerjakan tugas sekolah. Entah karena bapak saya adalah seorang guru dan ibu saya adalah mantan guru. Tapi yang jelas, cara semacam ini bisa Sahabat Keluarga sekalian ikuti. Seorang anak perlu mendapat bimbingan dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Dengan cara ini, seorang anak akan lebih mudah mengikuti setiap mata pelajaran di sekolahnya.

Menjadi Pengganti Guru Sekolah di Rumah

Maka secara tidak langung, saya pikir orang tua atau keluarga lainnya harus mempersiapkan diri dan memampukan diri untuk dapat menjadi pengganti guru sekolah di rumah.

Saya ingat ketika saya masih berada di bangku SD, ibuku selalu menemaniku memahami dan menghafal semua pelajaran sekolah. Bahkan terkadang, ibuku harus juga membaca buku sekolahku agar ia bisa mengajariku ilmu-ilmu tersebut.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melakukan proses belajar bersama keluarga seperti saya ini adalah menggunakan sistem tanya jawab. Saya terlebih dahulu menghafal semampu saya, kemudian ibuku memberiku pertanyaan-pertanyaan, dan saya harus menjawabnya. Perlahan namun pasti, dengan cara ini saya berhasil menjadi juara kelas saat itu. Alhamdulillah.

Memilih Tempat Bimbingan Belajar Terbaik bagi Anak

Namun sayang, sistem belajar dengan sistem tanya jawab semacam itu tidak bisa dilakukan hingga jenjang yang lebih tinggi. Pastinnya, keluarga dan orang tua mempunyai waktu dan pemahaman yang terbatas. Mungkin di tingkat SD sederajat mereka bisa membimbing anak mereka sepenuhnya. Tapi mulai tingkat SMP sederajat, mereka mungkin sudah sulit mengikuti pelajaran si anak yang terbilang sudah mulai sulit. Maka dari itu, banyak keluarga yang memutuskan untuk mengikutkan anaknya pada bimbingan belajar.

Mengikutsertakan anak pada bimbingan belajar terbaik juga termasuk ke dalam dukungan keluarga terhadap proses belajar anak loh… Toh dengan cara itu, kesuksesan anak dalam dunia pendidikan formal dapat terbantu.

Menyediakan Fasilitas Belajar yang Cukup

Saya meyakini bahwa adanya fasilitas belajar yang cukup adalah salah satu kunci kesuksesan anak. Tanpa adanya fasilitas belajar yang cukup semisal buku penunjang yang lengkap, tersedianya media digital pendukung, diberikannya alat komunikasi, hingga pembiayaan pendidikan mumpuni, bisa saja anak akan kesulitan untuk berkompetisi dengan kawannya di sekolah.

Kenapa saya meyakini hal itu?

Hehe, karena saya sendiri telah merasakannya. Ketika saya dibekali buku-buku penunjang yang lengkap maka saya bisa melangkah lebih cepat dan lebih jauh dibanding kawan-kawan saya. Alhasil, prestasi di sekolah dengan mudahnya saya dapat.

Lebih dari itu, ketika saya dibekali sebuah laptop dari bapak saya, maka saya pun dengan mudahnya mengembangkan bakat menulis dan menggunakan software komputer. Tulisan ini pun sebenarnya merupakan bukti dari langkah hebat itu. Sekarang saya dapat membuat blog dengan tampilan dan tulisan yang menarik untuk dibaca, dan sering menjuarai lomba-lomba blog.

So, gak ada alasan lagi bagi Sahabat untuk meyediakan fasilitas belajar yang cukup bagi anak.

Selain proses belajar di pendidikan formal, keluarga juga baiknya mendukung pencarian bakat anak. Karena secara umum, seorang anak terlahir tanpa mengenali bakat terbesar dalam dirinya. Di sini lah keluarga mengambil peranan penting untuk membantu anak menemukannya.

Adapun sejarah hidupku mencatat bahwa keluarga saya melakukan dua hal berikut untuk mendukung saya dalam mencari bakat.

Mengajari Dasar-Dasar Kemampuan

Ayah dan ibuku dengan telatennya mengajari dasar-dasar berbagai macam kemampuan. Saya diajari dasar-dasar menggambar/melukis, mewarnai, menulis, bulu tangkis, memasak, sepak bola, bercocok tanam, dan lain sebagainya. Dengan cara itu, saya bisa mengetahui kemampuan mana yang sesuai dengan kepribadian saya.

Mendukung Hobi dan Kesukaan Anak

Selanjutnya, ketika saya telah meyakini bahwa kemampuan tersebut merupakan bakat saya dan sesuai dengan hobi/kesukaan. Saya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Keluarga memberikan dukungan dengan cara membantu saya mengembangkan potensi tersebut.

Nah, saya sendiri dikarenakan bakat saya menulis, maka keluarga saya yang dalam hal ini orang tua saya sangat senang memberiku buku-buku bacaan untuk mendukung bakat tersebut.

Semakin berkembang seorang anak, maka akan semakin banyak problematika kehidupan yang mulai mencoba menguji si anak. Itulah yang saya rasakan selama ini. Ketika saya mulai masuk ke jenjang SMP dan SMA, saya mulai merasa kebingungan mengatasi beberapa masalah yang menimpa saya. Saya merasa membutuhkan tempat curhat, pemberi semangat, dan pemberi solusi untuk mengatasinya.

Tempat Curhat

Keluarga sudah selayaknya harus mampu menjadi tempat curhat bagi si anak. Keluarga harus bersikap terbuka atas setiap permasalahan si anak. Bukan justru memaki-maki dan bersikap apatis pada masalah tersebut.

Dalam keluargaku, saya sendiri lebih sering curhat kepada bapakku, saya sering bertanya dan berkonsultasi mengenai beberapa hal yang sulit saya pecahkan sendiri seperti curhat tentang pendidikan ataupun realita kehidupan sosial. Biar bagaimapun, mereka lahir lebih dahulu dari pada saya dan mungkin saja mereka juga telah mengalami hal yang sama. Bener ga?

Pemberi Semangat

Setelah anak menjadikan keluarga sebagai tempat curhat. Maka respon yang harus diberikan oleh keluarga adalah menyemangatinya, bukan justru membuat semangat anak jatuh. Dengan cara itu, proses semacam ini akan menjadi hal yang sangat positif bagi anak.

Membantu Memberi Solusi Masalah

Pastinya, jangan lupa untuk memberikan solusi terbaik anak. Pengalaman keluarga yang lebih matang dibandingkan dirinya akan dibutuhkan oleh si anak.

Itu dia beberapa pengalaman dan opini saya mengenai peran serta keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan. Saya berharap tulisan di atas dapat memberikan inspirasi dan menjadi sedikit referensi bagi Sahabat Keluarga semua khususnya yang terlibat langsung dalam proses pendampingan anak.

Tapi, dari tulisan ini pula saya ingin mengajak Sahabat seluruhnya untuk turut membagikan pengalaman dengan topik sejenis melalui media online/daring. Harapannya, semoga lebih banyak lagi Sahabat pembaca di luar sana yang memahami begitu penting dan krusialnya peran keluarga dalam penyelenggaraan pendidikan.

Hmm, jangan lupa ya untuk mengabari saya jika karyamu telah selesai 🙂 . Salam semangat dari saya!

#sahabatkeluarga

Oh ya Sahabat, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan atau yang biasa kita singkat menjadi Kemendikbud memiliki satu situs web yang seluruh isinya mengulas tentang berbagai cara pelibatan keluarga dalam pendidikan. Web Sahabat Keluarga dengan alamat sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id itulah yang saya maksudkan.

Meski di dalamnya ada banyak konten positif tentang pendidikan keluarga, tapi yang paling saya suka adalah pada web tersebut tersedia buku-buku keren tentang hubungan-hubungan keluarga dan anak dalam dunia pendidikan yang dikemas dengan desain yang sangat menarik.

Jika Sahabat juga tertarik untuk membacanya, cukup akses halaman Buku Sahabat Keluarga melalui tautan di bawah ini.

https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=buku/index

#sahabatkeluarga

Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan penulis, serta sumber-sumber referensi di bawah ini.

  • https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
  • Buku Sahabat Keluarga. https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=buku/index
  • Sahabat Keluarga : Mona dan Indra: Batasi Penggunaan Gadget
  • https://www.sdg2030indonesia.org
  • https://www.paud.id/2015/04/pengertian-masa-usia-emas-anak-golden-age.html
  • http://www.beritasatu.com/iptek/441867-ini-usia-minimal-punya-ponsel-menurut-bill-gates.html

#sahabatkeluarga

Gambar fitur pada tulisan ini diolah menggunakan sumber gambar berlisensi gratis freeepik.com
  • https://www.freepik.com/free-vector/flat-collection-of-family-doing-different-activities_2369332.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/kids-playing-in-the-garden-with-plastic-water-guns_2245286.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/father-s-day-background-with-happy-family_2219549.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/father-background-with-his-son-on-shoulders_1122739.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/daily-tasks-in-flat-design_853749.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/educational-background-with-students-reading_1078907.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/back-to-school-background-with-boy_2485989.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/background-in-flat-design-jar-with-savings_1147620.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/background-of-children-learning-in-class-with-teacher_1073796.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/wooden-sign-template-with-boy-planting-tree_1378553.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/facebook-background-with-mobile-phone_2454004.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/video-game-scene-with-a-sword_950616.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/family-background-in-living-room-watching-tv_1048617.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/a-set-of-vector-cartoon-illustrations-the-patient-is-talking-with-a-psychotherapist_1265775.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/illustration-of-life-motivation_2687409.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/background-of-child-thinking-an-answer_1035941.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/father-s-day-background-with-the-best-dad-ever_2192557.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/cartoon-background-with-empty-classroom-interior-inside_2669611.htm
  • https://www.freepik.com/free-vector/teacher-or-home-tutor-studying-with-her-girl-pupil_1311391.htm

#sahabatkeluarga

0Shares

Muhammad Fadillah Arsa

Kreator Konten Daring dan Programmer. Bloger Bandung. Saat ini sedang mengenyam pendidikan di Program Studi S1 Teknik Informatika Universitas Padjadjaran. Hubungi saya melalui email arsabandung@gmail.com . Selengkapnya di www.fadillaharsa.id

Mungkin Anda juga menyukai