Meratanya pendidikan menjadi salah satu aspek tercapainya tujuan sistem pendidikan nasional yang menginginkan terlaksananya tujuan nasional Indonesia: mencerdaskan kehidupan bangsa.  Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pemerataan pendidikan. Dimulai dari penerapan kurikulum baru ‘Kurikulum 2013 Revisi’, pencetusan program guru pembelajar (meski saat ini dihentikan), pembelian hak cipta buku untuk dijadikan sebagai buku gratis BSE, dukungan terhadap program swasta -misal: program Indonesia mengajar-, hingga pemberlakuan PPDB dengan sistem zonasi. Namun, ketertinggalan yang cukup jauh dari negara lain masih memberikan dampak pahit bagi pemerataan pendidikan di negeri ini. Seakan-akan pemerintah kebingugan mencari solusi atas masalah pelik ini.

Saya sebagai pemerhati kemajuan teknologi informasi, melihat jika kemajuan teknologi informasi yang sedemikian pesatnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah ataupun pihak lain yang bermaksud dan berniat ingin memajukan dan memeratakan kualitas pendidikan Indonesia. Pembangunan sumber pembelajaran nasional berbasis teknologi website nampaknya bisa menjadi solusi cerdas skala jangka panjang untuk menopang kebutuhan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Apalagi jika memang digarap dengan sempurna dengan memerhatikan aspek penunjang lainnya: internet, ponsel pintar, dll., maka solusi ini bisa menjadi jalan untuk membantu tercapainya pendidikan nasional yang berkualitas dan merata.

Keberadaan website pendidikan sejatinya bisa menjadi solusi apabila dirancang sesuai dengan kebutuhan para siswa. Program wajib belajar 9 tahun yang disusung oleh Pemerintah Republik Indonesia, dan program wajib belajar 12 tahun yang diusung oleh beberapa Pemerintah Daerah, seharusnya memerhatikan kebutuhan siswa akan sumber pembelajaran sangatlah besar. Apalagi kurikulum pendidikan saat ini juga mewajibkan siswa aktif dalam mencari sumber ilmu secara mandiri. Jika, hal ini tidak dibarengi dengan pemberian sumber ilmu yang lengkap dan sesuai, maka sejatinya program dan kurikulum saat ini bisa dianggap pemanis nama belaka.

Website sumber pembelajaran nasional memang bukan merupakan solusi yang baru dan inovatif. Selama ini sudah banyak pihak swasta yang mencoba mengembangkannya. Tidak mau kalah, pemerintah sendiri pun melalui Kemendikbud telah menciptakan ruang belajar berisikan BSE, sumber belajar, bank soal, dan lain-lain dengan alamat belajar.kemendikbud.go.id. Namun tetap, tidak adanya rancangan pembangunan website secara instensif dan berkelanjutan membuat website tersebut stagnan dalam posisi kurang bermanfaat bagi para pembelajar.

“Lalu, website sumber pembelajaran nasional yang bagaimana yang bisa memberikan dampak postif bagi program pemerataan pendidikan nasional?”

Hasil dari pengamatan singkat tanpa program yang saya lakukan menunjukan bahwa para siswa yang belajar di sekolah kota pun banyak yang kebingungan ketika guru memberikan tugas yang tingkat kesulitannya melampaui buku terbitan Kemendikbud. Maka, kualitas dari buku penunjang yang diberikan secara gratis pun harus dipertanyakan. Alih-alih diberikan secara gratis, namun saya rasa buku tersebut masih kurang berkualitas. Jangankan bisa dibilang berkualitas, untuk membimbing siswa mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional dan ujian masuk jenjang pendidikan nasional pun tidak bisa. Secara halus, siswa dipaksa untuk membeli buku atau sumber pembelajaran lain yang memiliki harga sangat mahal. Dalam arti lain, siswa miskin dipaksa untuk berjuang lebih keras dibanding temannya, dan mereka benar-benar diperlakukan tidak adil dalam sistem pendidikan ini

Dengan itu, kita membutuhkan sebuah website sumber pembelajaran nasional yang memberikan jelas-jelas manfaat. Kita membutuhkan sebuah website sumber pembelajaran nasional yang sangat lengkap dan gratis yang dapat menunjang kebutuhan siswa untuk berbagai hal. Sebut aja semisal Ujian Sekolah, Ulangan Harian, Ujian Nasional, SBMPTN, Ujian Saringan Masuk Perguruan Tinggi, bahkan Ujian Seleksi Masuk Kerja. Dimaksudkan agar siswa dapat mendapatkan sumber belajar yang lebih mudah dan murah didapat dibanding sumber pembelajaran lain semisal buku ataupun DVD Pembelajaran.

Adapun dalam penggarapannya, website sumber pembelajaran ini dapat berisikan buku-buku gratis yang memiliki konten lengkap, vidio pembelajaran, vidio praktik pembelajaran, forum diskusi pendidikan, ataupun jenis-jenis sumber belajar lainnya yang dibutuhkan siswa. Pengelolaan dan pendiriannya sendiri jelas-jelas dapat dilakukan oleh pemerintah, swasta, ataupun pribadi. Namun tentu, pendirian website sumber pembelajaran ini tidaklah murah. Perlu dana besar ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk dapat membeli hak cipta buku, membuat vidio pembelajaran, dan membeli konten edukatif lainnya. Hal inilah yang saya rasa membebani banyak pihak untuk menginisiasi/memulai penggarapannya.

Beragam pertanyaan dilontarkan atas ide setengah gila ini -Mengapa saya katakan setengah gila? Karena memang pada dasarnya ide ini mudah direalisasi secara konsep, namun terbilang sulit untuk benar dilaksanakan-. Berikut saya bubuhkan beberapa pertanyaan dan jawaban yang sempat terlontar dari kawan-kawan saya.

  1. Pertanyaan: “Jika kamu yang membuatnya, bagaimana bisa kamu mendapat modal pendirian sebesar itu?”
    Jawaban: “Mudah saja, dengan mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah, penerbitan program donatur/kerjasama/sponsor, hingga penggalangan dana, saya kira cukup membiayainya.”
  2. Pertanyaan: “Apakah ide ini memang bermanfaat?”
    Jawaban: “Ya, saya yakin itu. Toh saya sudah mengerti bagaimana sulitnya mencari ilmu tanpa mengeluarkan banyak biaya.”

Saya kira, tentu segala bentuk kreasi dan inovasi memiliki resiko tersendiri, dan tidak setiap individu bisa meminimalkan resiko tersebut. Maka, ada kalanya putra-putri negeri harus bisa meyakinkan diri untuk bisa menggebrak segala tantangan yang hadir dalam masanya. Ada kalanya pula putra-putri negeri generasi baru lah yang harus turun tangan dalam menyelesaikan setiap kondisi pelik.

Demikian pula dengan solusi ini, website sumber pembelajaran nasional untuk pemerataan pendidikan. Kiranya bisa menjadi benar-benar solusi apabila kedepannya dapat direalisasi dengan niat ikhlas dan dengan didahuli perencanaan yang matang.


Author: Muhammad Fadillah Arsa

Panggil saja saya dengan sebutan "Kang Arsa". Seorang mahasiswa yang senang menulis. Karena dengan menulis, setiap ide akan mengalir menumbuhkan benih-benih pejuang baru...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *