Pilih Laman

Saat ini, pembahasan seputar generasi millennial sangat hangat di tengah masyarakat. Generasi millennial adalah sebutan bagi generasi yang lahir dalam kurun waktu 1980 hingga 2000an.  Di negara ini generasi millennial dianggap sebagai generasi penerus yang digadang-gadang bisa membuat Indonesia lebih maju. Apalagi, di tahun 2020 sampai 2030 kita mendapat bonus demografi, yaitu usia angkatan kerja mencapai 180 juta jiwa. Pastinya, kemajuan negara ini ke depan benar-benar akan ditentukan oleh generasi millennial.

Tapi sayang banget, harapan dan bonus demografi tersebut kayaknya gak banyak ditanggapi oleh masyarakat kita, apalagi sama si generasi millennial.

Lantas, apa yang mesti kita lakukan sebagai generasi millennial?


So, what should we do?


Saya rasa, bukan karena pemuda kita malas-malasan dan tidak mau memanfaatkan keadaan positif ini, tapi karena mereka bingung:

“Memangnya apa sih yang harus dilakukan sebagai generasi millennial? Toh tidak ada yang perubahan aneh di dunia ini. Toh dunia berkembang seperti biasa.”

Hmm, memang rasanya kehidupan ini bejalan lurus apa adanya. Tapi, apa ke depannya kamu mau bangsa ini diam seperti ini saja? Apakah dengan bonus demografi ini, kita hanya mendapat kebanggaan saja?

Oh tidak!

Kita mesti melihat dan mulai memikirkan langkah-langkah kita ke depannya untuk bisa menggenggam dunia. Eeeaaa. Bener ga?

1 | Mencari dan Berbagi Ilmu Lebih Giat

Ciri khas dari kehidupan modern adalah perkembangan ilmu yang sangat cepat, ditambah dengan persebaran ilmu yang sangat mudah. Bisa dibilang, kehidupan modern ditopang oleh masyarakat modern dengan segala kemampuan keilmuannya.

Lihat saja bagaimana Amerika Serikat bisa kuat dalam bidang militer! Mereka kuat karena ilmu. Lihat saja bagaimana dahulu kita bisa jaya di dunia kedirgantaraan! Bukan karena ada Pak Habibie, tapi karena ia memilki ilmu yang luar biasa. Lihat saja bagaimana saat ini Tiongkok bisa menjadi negara kaya! Karena ilmu juga kan?

Yayay, dari sana ada semua bisa menyimpulkan sendiri, kalau kita semua perlu belajar lebih giat menimba ilmu dan lebih giat juga dalam membagikannya. Kan lebih baik jika kita maju bersama?

2 | Menjadi Enterpreneur

Dengan adanya bonus demografi yang sangat besar. Negara kita dipastikan akan kebanjiran usia produktif tenaga kerja. Nah, pertanyaannya, dimana mereka akan bekerja?

Ayo dimana ayo???

Jangan sampai adanya bonus demografi ini justu membuat negara lain untung besar dengan mendirikan anak perusahaan atau cabang perusahaan di Indonesia. Bukannya kita semua enggak mau kan jika ekonomi kita dikuasai asing?

Lalu bagaimana caranya?

Tidak lain, jawabannya hanya satu sob! Kita sendiri yang membuka lapangan pekerjaan. Sudah saatnya kita tidak lagi berpangku tangan pada asing. Setuju?

3 | Berlatih Memimpin

Udah tau dapet tugas seabreg, eh malah santai-santai aja. Udah tau akan jadi generasi penerus, eh taunya cuma bisa jadi jongos. Udah tau lawan udah jadi pemimpin dunia, eh hidupnya cuma bisa pasrah didikte saja.

Hmm, memang harapan kita begitu sulit. Tapi inget, kalau semua benar benar bisa kita capai asalkan punya tekad dan niatan. Saatnya kita perbaiki diri, ubah pandangan, dan mulai berlatih memimpin diri untuk berubah.

Pernah liat tokoh di atas? Bayangkan, apa yang bisa kita lakukan kalau kalau kita bisa berubah seperti dia. Menjadi kuat tiba-tiba, menjadi pahlawan tiba-tiba, dan menjadi penyelamat bagi negeri.

Wuih, pastinya bakal ada perubahan deh.

4 | Melek Teknologi Digital

Satu lagi hal yang perlu diingat. Ciri khas lain zaman millennial adalah majunya teknologi digital. Hampir di semua bidang kehidupan, kita udah menerapkan teknologi digital untuk mempermudah kita. Dari mulai makanan udah bisa jalan sendiri ke rumah (e-commerce) sampai sampai mau buka pintu pun tinggal bilang ‘buka pintu’ (artificial inteligence). Haha, betapa lucunya dunia saat ini. Hidup udah kayak di alam mimpi.

Maka sangat tidak layak bagi generasi millennial untuk membiarkan, menjauhi, bahkan meninggalkan teknologi digital. Bersikap tak acuh pada teknologi digital justru adalah kesalahan besar.

Bayangkan saja, jika kita menggali ilmu tanpa teknologi digital, uang habis hanya untuk membeli buku, sedangkan saat ini ilmu sudah banya bertebaran di internet.

Bayangkan saja, jika kita mengembangkan bisnis tanpa teknologi digital, berjualan asongan ke rumah-rumah, sedangkan e-commerce sudah menjadi raja pasar.

Bayangkan saja, jika kita memakai teknologi internet hanya untuk bersosial media saja, sedangkan internet bisa kita jadikan ujung tombak membangun bangsa.

Maka udah saatnya kita menjadikan teknologi digital sebagai bagian dari kehidupan. Dan udah saatnya juga kira bangun budaya digital sebagai budaya masyarakat.


Millennials on The Move


Di penjuru sana, negara-negara maju sudah start duluan mengembangkan teknologi digital untuk membantu dan mempermudah beragam kegiatan. Generasi millennial Indonesia enggak lagi ditantang untuk bisa memanfaatkan teknologi digital dalam kehidupan pribadi saja, tetapi ditantang untuk bisa mengembangkan teknologi digital yang melampauai capaian negara-negara maju dan juga memanfaatkan teknologi digital untuk kemajuan negeri.

Al-hasil, mau gak mau, kita harus terima jika perjuangan kita harus lebih keras lagi, lebih produktif lagi. Kita benar-benar harus meyakinkan diri bahwa kita tengah melangkah, ‘millennials on the move’!


Pentingya Budaya Digital Produktif


Selain harus bisa mengembangkan teknologi digital secara masif, ada satu hal lain yang patut kita inget-inget selalu.

Apa itu?

Penting bagi semua masyarakat Indonesia memulai membiasakan diri memanfaatkan teknologi digital secara produktif.

Maksudnya?

Gini nih, seluruh lapisan masyarakat terutama generasi millennial harus mulai melakukan berbagai hal produktif yang memanfaatkan teknologi digital.

Buat apa?

Haduh, mas… mba… masih belum paham juga? Ada baiknya mas dan mba sekalian nyimak uraian berikut, supaya paham kenapa mas mbak semua harus membangun budaya digital yang produktif.

1 | Terlalu Banyak Budaya Digital Non-Produktif

Huff, kalau bisa dibilang, hampir semua kegiatan digital yang kita lakukan itu kurang produktif. Dari mulai sosmed-sosmedan gak jelas, komen-komen gak jelas, baca berita gak jelas, selfie lah, debat kusir tentang politik lah, sampai-sampai banyak sekali debat agama yang masyarakat kita lakukan.

Semua itu adalah budaya digital non-produktif. Tidak patut untuk dilestarikan, apalagi diikuti. Dengan adanya komitmen teman-teman untuk membangun budaya digital produktif, waktu luang kita akan lebih manfaat bukan?

2 | Membuat Maraknya Hoax

Dimulai dari budaya non-produktif yakni banyaknya masyarakat kita yang suka baca artikel, tapi gak mampu untuk memilah mana yang benar mana yang salah. Hal ini justru membuat budaya digital kita semakin rusak, apalagi ada beberapa kalangan justru dengan sangat niat membuat puluhan ribu berita hoax yang disebarluaskan ke publik. Budaya digital yang produktif tidak mengarah ke hal tidak berguna seperti ini.

3 | Agar Internet Lebih Manfaat

Semakin produktif budaya digital yang kita lakukan, maka semakin besar kebermanfaatan internet bagi manusia. Itu aja, cukup.

4 | Mendukung Netiquette

Apa itu netiquette? Saya yakin tidak banyak yang tau soal netiquette ini… Benar kan?

Sumber gambar: prezi.com

Nettiquette adalah kesepakatan etika-etika yang sebaiknya dipatuhi dalam melakukan aktivitas digital, terutama dalam berinternet. Di bawah ini adalah poin-poin dari netiquette.

  1. Katakan dengan baik apa yang ingin kamu katakan.
  2. Katakan dengan singkat.
  3. Koreksi pesanmu.
  4. Jangan asumsikan kamu adalah anonim.
  5. Pelajari bahasa non-verbal.
  6. Mengenali singkatan.
  7. Jaga sikap.
  8. Jangan menjadi sumber spam.
  9. Katakan tidak untuk spam.

Budaya digital yang produktif selaras dengan aturan-aturan netiquette ini. Dengan itu, lagi-lagi penting banget membangun budaya digital yang produktif.


Masalahnya Apa? Solusinya Apa?


Masalahnya apa?

Sekilas, saya sebenarnya udah menyinggung beberapa masalah yang kita hadapi, salah satunya adalah masih buruknya budaya digital masyarakat.

Solusinya apa?

Solusinya, kita harus memulai membangun budaya digital secara produktif dimulai dari diri sendiri.

Bagaimana caranya?

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membangun budaya digital produktif. Mulai dari melakukan bisnis online, menyebarkan berita benar yang aktual, menggunakan gadget sesuai kebutuhan, mengurangi tontonan tidak mendidik, menyebarkan ilmu dan informasi secara online, hingga melakukan silaturahmi online.

Tapi, ada satu solusi yang senang saya katakan. Solusi yang memiliki manfaat besar bagi kemajuan negeri. Dan tentunya banyak disenangi oleh generasi millennial.

Apa itu?

Ngeblog!

Hah, ngeblog? Jangan ngelawak deh!

Serius, serius. Mungkin banyak yang gak sadar kalau ngeblog itu adalah bagian dari budaya digital produktif. Untuk alasannya sendiri, mari baca bagian selanjutnya.


Alasan Kenapa Kita Harus Ngeblog Produktif


Saya yakin, banyak di antara Sahabat yang bertanya-tanya, kenapa sih harus ngeblog? Emang ngeblog bisa memberi apa?

Di samping itu, saya yakin sebenarnya Sahabat semua sudah tau jawabannya. Toh semua udah menggunakan internet. Dan saat ini pun, Sahabat sedang membaca blog saya bukan? Wkwkwk.

1 | Membantu Persebaran Ilmu

Yang paling saya suka dari ngeblog, adalah hasilnya yang mulia. Ngeblog bisa membantu persebaran ilmu lebih cepat. Bayangkan aja, kamu ngepos blog saat ini, maka saat itu juga Sahabat kita yang ada di ujung barat dan timur bisa membacanya selama ada internet.

Dari situ, kita juga bisa mengambil simpulan, kalau ngeblog bisa membantuk kemajuan negeri ini. Toh, dengan adanya ilmu, semua bisa diraih kan.

2 | Membuang Budaya Non-Produktif

Singkatnya, daripada nge-gadget gak jelas, mending ngeblog yang jelas-jelas punya segudang manfaat.

3 | Lebih Dekat Dengan Teknologi

Dijamin deh, kalau Sahabat udah terbiasa dengan ngeblog, jatuh-jatuhnya akan lebih dekat dengan teknologi. Hmm, pengalaman sih begitu.

4 | Marcomm Vol.2 Pun Tahu

Sampai-sampai Panitia Marcomm Vol. 2 pun tau, kalau blog memang jawaban dari segalanya. Universitas Esa Unggul saat ini tenga menyelenggarakan lomba blog bertemakan budaya digital produktif. Hmm, artinya apa? Kalangan mahasiswa pun tahu, kalau sebenarnya jawaban dari permasalahan budaya digital produktif itu adalah ngeblog. Bener gak sih? Hehe.


Ngeblog Susah Ga?


Susah susah gampang sih. Susahnya? Susah niatnya. Gampangnya? Gampang-gampang aja sih, apalagi kalau blognya dihosting di dewaweb. Beuh, mantap abis. Udah cepet, aman, ada bantuan ninja supportnya lagi yang udah pengalaman banget dengan blog. Haha, hosting super aneh, harga warteg, fasilitas restaurant.

Minat ngeblog? Coba deh ikutin tutorial pembuatan blog wordpress dengan dewaweb di tautan di bawah ini.

Cara Membuat Blog WordPress Self Hosted di Dewaweb


Simpulan


Keadaan memaksa kita untuk hidup penuh perjuangan…
Perjuangan dengan peluh menjilati tubuh yang sudah lunglai…
Ditambah lawan tak pernah merasa salah tuk siksa kita…

Akhirnya haruslah budaya yang kita coba ubah…
Dari tekad hingga kehidupan digital…
Harus kita upayakan produktif…


Keterangan


Referensi : Buku Digital Planet
Gambar fitur menggunakan lisensi gratis freepik.com
# Dewaweb, Marcomm Vol.2, Millennials On The Move
Jumlah kata: 1568 kata.